Langsung ke konten utama

Postingan

Ya Allah, Kenapa Nasibku Begini ? 😭

Kamu sedang di ambang keputus asaan ? Kamu capek dengan semua yang terjadi ? Kamu ingin menyerah ? Wait..... Sadar atau tidak sadar, tiap hari kita berdoa biar dosa kita diampuni. Sadar atau tidak sadar, tiap hari kita minta dijauhkan dari neraka, didekatkan dengan surga. Jrenggg...!! Begitu Allah kasi jalan agar doa kita bisa terkabul..?? Loh, ternyata kita malah mengeluh (?) Mungkin pahala shalat kita jauh dari 'pas'. Mungkin pahala puasa kita sama sekali nggak cukup. Mungkin pahala ngaji kita ternyata nggak ada apa-apanya. Dan bahkan ternyata semua sudah habis terkikis, disebabkan dosa-dosa kita. Atau malah semua kebaikan yang kita lakukan, nothing (?) Karena nggak ada niat di awalnya (?)  Sebab itulah Allah kasi kita masalah. Allah buat hati kita sesak, kesel, sebel, perih, sakit, atau bahasa lebaynya, hancur, cur, curr.. Supaya kita bisa sabar, supaya pahala kita mengalir dari kesabaran. Tapi ? Ternyata ? Hff.. Lagi-lagi kita mengeluh. Lantas dengan cara apa la...
Postingan terbaru

Kagum

"KAGUM" *** Sore menjelang malam. Citra beristirahat dari tugasnya, berjalan menuju meja di sudut ruang, membuka laci, lalu mengambil handphonenya. Seperti biasa, ia membuka media sosial favoritnya, Instagram. Ketika iseng melihat 'explore', ia menemukan sebuah video dari seseorang yang tak dikenalnya. Tiba-tiba ia terkejut dan terbelalak, sembari berkomentar penuh takjub, "Ya Ampun! Kok bisa sih?" Diputarnya video tersebut berulang-ulang. Masih dengan penuh ketidakpercayaan. Penasaran. Akhirnya ia mencari tahu pemilik video itu. Sebut saja Fulan. Semakin ia melihat video-video si Fulan, semakin ia berdecak kagum. "Ya ampun, kok bisa? Gimana caranya? Kok bisa gitu ya? Kok bisa kepikiran buat video kayak gitu? Ya ampun,  orang ini makan apa sih? Gimana caranya? Aku gak abis pikir. Gila! Kreatif banget! Gila! Parah! Ini belajar berapa lamaa ampe bisa begini? Apa otodidak? Waah.. Gila sih!  Parah! Kerenn! YA AMPUN, KEREN BANGET!!...

Filosofi Kipas Tua dan Lampu

"FILOSOFI KIPAS TUA DAN LAMPU"  23.51 Ramai perlahan pergi. Sepi mengendap-endap menghampiri. Obrolan-obrolan sudah habis. Sumber-sumber suara yang banyak itu berganti hening. Tetangga dan penghuni-penghuni rumah ini sudah terlelap, termasuk teman sekamarku, mbak Evi. Aku masih duduk merenung, bersandar pada papan ranjang tingkat yang mulai keropos dimakan rayap. Mataku tertuju pada kipas angin tua yang agak berisik dan lampu kamar pengganti cahaya matahari. Ku amati kedua benda itu dalam-dalam. Pikiran-pikiran di kepalaku mulai bercakap-cakap dengan sok tahu. "Kipas ini terus menerus berputar. Tak lelah kah ia? Padahal usianya sudah bertahun-tahun. Sementara dalam sehari ia lebih banyak bekerja daripada beristirahat. Lampu ini pun demikian. Mereka tak rusak-rusak. Tak mati-mati." Semakin ku amati, semakin jelas pula suara jarum jam di dekatku, yang terus berputar  dan seolah mengingatkan, "Maw, sudah larut malam". Tapi per...

Siapa Aku?

"SIAPA AKU ?"  Ku lihat sekelilingku. Luas. Ramai. Ku perhatikan setiap orang yang ku lihat. Style-nya, gerak-geriknya, sorot matanya. Dan aku mulai sibuk menilai dalam benakku. Hey! Siapa aku? Apa hakku menilai mereka? Mengapa aku memperhatikan orang lain, sementara aku mengabaikan diriku sendiri? Mengapa aku sibuk menilai orang lain, namun lalai terhadap diriku sendiri? Tak hanya di dunia nyata, dunia maya bahkan lebih menggangguku. Yang selalu ku pikirkan adalah keadaan sekitarku. Bahkan saat shalat sekali pun, yang ku ingat adalah orang-orang lain dan segala urusan-urusanku. Mengapa aku tak merenungkan diriku sendiri? Siapa aku? Siapa yang menciptakanku?  Siapa yang menciptakan semua orang-orang ini? Apa sebenarnya tujuan hidupku? Sampai kapan aku akan berada di tempat ini? Seperti apa akhir hayatku? Bagaimana setelah aku tiada? Apa aku akan hilang? Aku terlalu santai, hingga aku lupa, hingga aku lalai, bahwa keberadaanku ...

Berubah

"BERUBAH"  Sunyi.. sepi.. Yang terdengar hanya suara kipas tua yang tak henti menoleh ke kanan dan ke kiri sejak pagi hari. Jarum jam yang menunjukkan pukul 5 sore pun seolah membisu. Gadis berjilbab orange itu termenung. Pikirannya kembali ke masa lalu tanpa bisa ia hentikan. Dicarinya buku harian lusuh kesayangannya, pulpen hadiah temannya dari Korea, dan sandal putihnya yang paling nyaman. Segera ia mencari langit di ujung kapal tua yang tak lagi beroperasi. "Mengapa tak lagi seperti dulu? Mengapa semuanya berubah tanpa sedikitpun sama lagi? Mengapa begitu asing? Mengapa seolah aku tak pernah sedekat itu? Mengapa hanya seperti mimpi yang berlalu? Mengapa seperti bukan bagian dari perjalanan hidupku? Apa ia amnesia? Tidak. Tapi mengapa sejauh ini?", Teriaknya dalam hati. Butiran air matanya mengalir, dadanya sesak tak tertahan lagi, tangisannya pun pecah mengalahkan suara ombak yang menghantam pinggiran kapal tua. Setelah puas meneriakk...

Satu Detik ke Depan

"SATU DETIK KE DEPAN" Angin mengarak awan hitam. Keadaan di luar jendela kamar menjadi gelap seketika. Anak-anak yang tengah asik bermain bola dan mengendarai sepeda di halaman satu-persatu beranjak pergi. Tiba-tiba rombongan tetesan air menyerbu, jatuh tanpa kenal ampun dari langit. Tak hanya itu, mereka datang disertai cahaya-cahaya khas seperti sedang difoto menggunakan blitz, disusul suara keras seperti suara tembakan yang dipenuhi hawa menakutkan. Seketika keadaan itu memaksa langkah kaki untuk segera menutup jendela, menarik tirai, agar cahaya blitz dan suara menyeramkan itu tak terlihat dan jelas terdengar lagi. Padahal baru beberapa menit yang lalu panas matahari mendera. Tapi kini suasana berbalik seketika. Ya, seperti itu kehidupan. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi satu detik ke depan. Baru kemarin rasanya berkumpul, bercerita, bermain dan bercanda, serta mengukir kisah dengan mereka, teman-teman dan adik-adik di Pondok Nurul Jannah -...

Malam Takbiran Anak Rantau

"MALAM TAKBIRAN ANAK RANTAU" Suasana berbeda mulai terasa. Aku bangkit dari sajadah yang telah ku hamparkan sejak sebelum shalat Maghrib tadi.  Kusambar secangkir Milo dingin yang belum habis ku minum ketika berbuka. Handphone genggam yang baterainya belum terisi penuh, segera ku cabut. Sesaat kemudian aku sudah duduk termenung di pintu dapur. Melihat ke arah langit yang terhalang dedaunan cukup lebat di belakang rumah. Masih jelas putihnya langit itu walau dengan mata minus 1,5 tanpa bantuan kacamata. Suara-suara kembang api yang sedari tadi terdengar ramai di kejauhan kini terkalahkan oleh suara adzan Isya dari segala penjuru masjid. Tak berselang lama, suara adzan tadi berganti menjadi gema-gema takbir yang hanya terdengar dua kali dalam setahun itu. Ku aktifkan handphoneku. Ucapan Minal Aidin wal Faidzin beramai-ramai menyerbu lewat setiap media sosial. Foto-foto dan video kebersamaan orang-orang dan keluarganya memenuhi beranda. Pandanganku seakan ko...