Langsung ke konten utama

Malam Takbiran Anak Rantau

"MALAM TAKBIRAN ANAK RANTAU"


Suasana berbeda mulai terasa. Aku bangkit dari sajadah yang telah ku hamparkan sejak sebelum shalat Maghrib tadi.  Kusambar secangkir Milo dingin yang belum habis ku minum ketika berbuka. Handphone genggam yang baterainya belum terisi penuh, segera ku cabut.

Sesaat kemudian aku sudah duduk termenung di pintu dapur. Melihat ke arah langit yang terhalang dedaunan cukup lebat di belakang rumah. Masih jelas putihnya langit itu walau dengan mata minus 1,5 tanpa bantuan kacamata. Suara-suara kembang api yang sedari tadi terdengar ramai di kejauhan kini terkalahkan oleh suara adzan Isya dari segala penjuru masjid.
Tak berselang lama, suara adzan tadi berganti menjadi gema-gema takbir yang hanya terdengar dua kali dalam setahun itu.

Ku aktifkan handphoneku. Ucapan Minal Aidin wal Faidzin beramai-ramai menyerbu lewat setiap media sosial. Foto-foto dan video kebersamaan orang-orang dan keluarganya memenuhi beranda.
Pandanganku seakan kosong. Nano-nano serpihan ingatan satu persatu terlintas di kepala. Hati mulai mengambil perannya. Nafas terasa sesak. Mata pun kian terasa panas. Sedetik kemudian berkaca-kaca.

Hanya sampai disitu, suasana sedih itu tersudahi oleh gigitan-gigitan nyamuk yang sangat mengganggu. Aku beranjak. Ku tutup pintu dapur. Segera menyelamatkan diri.

Ini tahun ke-empat aku tidak mendengar suara bapak bertakbir di masjid. Tidak sedang di dapur membantu mama memasak ketupat, burasa', dan ayam peliharaan yang dipotong bapak. Tidak juga menyusun kue-kue kering di toples, membereskan rumah, atau menyetrika baju-baju keluargaku untuk dikenakan di hari raya besok. Pun tidak sedang bercengkrama dan bercanda tawa menyambut hari Raya bersama.

Tapi aku tak sedih lagi.
Setidaknya lebaran kali ini aku tidak hanya akan makan wafer "selamat" dan jambu air di halaman asrama lagi.
Tahun ini kami berdua (aku dan Mbak Evi) yang meramaikan  rumah depan. :')
*RBU

#catatanhatimawaddahkhairiyah

_______________
Di tulis pada,  24 Juni 2017.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ya Allah, Kenapa Nasibku Begini ? 😭

Kamu sedang di ambang keputus asaan ? Kamu capek dengan semua yang terjadi ? Kamu ingin menyerah ? Wait..... Sadar atau tidak sadar, tiap hari kita berdoa biar dosa kita diampuni. Sadar atau tidak sadar, tiap hari kita minta dijauhkan dari neraka, didekatkan dengan surga. Jrenggg...!! Begitu Allah kasi jalan agar doa kita bisa terkabul..?? Loh, ternyata kita malah mengeluh (?) Mungkin pahala shalat kita jauh dari 'pas'. Mungkin pahala puasa kita sama sekali nggak cukup. Mungkin pahala ngaji kita ternyata nggak ada apa-apanya. Dan bahkan ternyata semua sudah habis terkikis, disebabkan dosa-dosa kita. Atau malah semua kebaikan yang kita lakukan, nothing (?) Karena nggak ada niat di awalnya (?)  Sebab itulah Allah kasi kita masalah. Allah buat hati kita sesak, kesel, sebel, perih, sakit, atau bahasa lebaynya, hancur, cur, curr.. Supaya kita bisa sabar, supaya pahala kita mengalir dari kesabaran. Tapi ? Ternyata ? Hff.. Lagi-lagi kita mengeluh. Lantas dengan cara apa la...

Kagum

"KAGUM" *** Sore menjelang malam. Citra beristirahat dari tugasnya, berjalan menuju meja di sudut ruang, membuka laci, lalu mengambil handphonenya. Seperti biasa, ia membuka media sosial favoritnya, Instagram. Ketika iseng melihat 'explore', ia menemukan sebuah video dari seseorang yang tak dikenalnya. Tiba-tiba ia terkejut dan terbelalak, sembari berkomentar penuh takjub, "Ya Ampun! Kok bisa sih?" Diputarnya video tersebut berulang-ulang. Masih dengan penuh ketidakpercayaan. Penasaran. Akhirnya ia mencari tahu pemilik video itu. Sebut saja Fulan. Semakin ia melihat video-video si Fulan, semakin ia berdecak kagum. "Ya ampun, kok bisa? Gimana caranya? Kok bisa gitu ya? Kok bisa kepikiran buat video kayak gitu? Ya ampun,  orang ini makan apa sih? Gimana caranya? Aku gak abis pikir. Gila! Kreatif banget! Gila! Parah! Ini belajar berapa lamaa ampe bisa begini? Apa otodidak? Waah.. Gila sih!  Parah! Kerenn! YA AMPUN, KEREN BANGET!!...

Satu Detik ke Depan

"SATU DETIK KE DEPAN" Angin mengarak awan hitam. Keadaan di luar jendela kamar menjadi gelap seketika. Anak-anak yang tengah asik bermain bola dan mengendarai sepeda di halaman satu-persatu beranjak pergi. Tiba-tiba rombongan tetesan air menyerbu, jatuh tanpa kenal ampun dari langit. Tak hanya itu, mereka datang disertai cahaya-cahaya khas seperti sedang difoto menggunakan blitz, disusul suara keras seperti suara tembakan yang dipenuhi hawa menakutkan. Seketika keadaan itu memaksa langkah kaki untuk segera menutup jendela, menarik tirai, agar cahaya blitz dan suara menyeramkan itu tak terlihat dan jelas terdengar lagi. Padahal baru beberapa menit yang lalu panas matahari mendera. Tapi kini suasana berbalik seketika. Ya, seperti itu kehidupan. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi satu detik ke depan. Baru kemarin rasanya berkumpul, bercerita, bermain dan bercanda, serta mengukir kisah dengan mereka, teman-teman dan adik-adik di Pondok Nurul Jannah -...