"FILOSOFI KIPAS TUA DAN LAMPU"
23.51
Ramai perlahan pergi. Sepi mengendap-endap menghampiri. Obrolan-obrolan sudah habis. Sumber-sumber suara yang banyak itu berganti hening.
Tetangga dan penghuni-penghuni rumah ini sudah terlelap, termasuk teman sekamarku, mbak Evi.
Aku masih duduk merenung, bersandar pada papan ranjang tingkat yang mulai keropos dimakan rayap.
Mataku tertuju pada kipas angin tua yang agak berisik dan lampu kamar pengganti cahaya matahari.
Ku amati kedua benda itu dalam-dalam. Pikiran-pikiran di kepalaku mulai bercakap-cakap dengan sok tahu.
"Kipas ini terus menerus berputar. Tak lelah kah ia? Padahal usianya sudah bertahun-tahun. Sementara dalam sehari ia lebih banyak bekerja daripada beristirahat. Lampu ini pun demikian. Mereka tak rusak-rusak. Tak mati-mati."
Semakin ku amati, semakin jelas pula suara jarum jam di dekatku, yang terus berputar dan seolah mengingatkan, "Maw, sudah larut malam".
Tapi percakapan antara aku dan aku ini masih terus berlanjut, "Sampai kapan kamu akan memperhatikan benda itu? Ia akan terus berputar, ia akan terus bekerja sebagaimana fungsi dan tujuannya dibuat oleh manusia."
Aku yang lain seolah membenarkan, "Ia, nanti akan ada saatnya mereka mati, rusak, tak bisa berfungsi dan diperbaiki lagi. Akan ada saatnya mereka dibuang, digantikan dengan yang baru."
"Sama seperti kamu, manusia, kamu hanya ciptaan Tuhan, yang diciptakan untuk beribadah dan menyembah-Nya, mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang 'sebenarnya' kelak. Bedanya, kipas itu benda mati, yang.. ya sudah, dibuat hanya untuk menyejukkan, mengusir gerah dan panas. Sementara Tuhan sangat baik, menciptakan dan memberimu akal. Kamu bebas melakukan apa saja, tapi kamu tetap dikaruniakan fitrah. Sebenarnya kamu sangat istimewa. Kamu selalu mempunyai pilihan. Coba renungkan lebih dalam lagi. Tapi jangan merenung tanpa ilmu. Bacalah petunjuk nyata; Al-Qur'an dan ikuti pemimpinmu, Rasulullah. Jangan sampai kipas yang hanya buatan manusia itu jauh lebih bermanfaat dan berguna daripada keberadaanmu di dunia ini. Teruslah belajar. Teruslah menebar manfaat. Hingga kelak umurmu berakhir, seperti kipas itu." Nasihat dari aku yang lain.
Seketika badanku bergidik, merinding..
Aku hanyalah hamba,
Yang punya batas waktu.
#catatanhatimawaddahkhairiyah
________
Ditulis pada, 02 November 2018.
________
Ditulis pada, 02 November 2018.

Komentar
Posting Komentar